Hari itu, meeting diadakan sejam lebih cepat dari jadwal karena jajaran direksi akan bertemu pemegang saham. Aku sudah terbiasa dengan perubahan jadwal yang mendadak. Maka, aku dan Haris segera menyiapkan bahan diskusi tentang progress perusahaan di lini operasional mie. Permintaan masyarakat menjelang bulan ramadan akan mie instan semakin melonjak sehingga produksi perlu ditingkatkan. Haris berpendapat sebaiknya menyiapkan parsel yang berisi mie instan untuk semakin meningkatkan penjualan. Aku tentu saja setuju dengan idenya.
Ketika aku dan rekan kerjaku lainnya memasuki ruang rapat, lampu gantung LED yang tergantung di atas plafond bergoyang. Kemudian alarm evakuasi berbunyi nyaring diiringi pengumuman untuk menggunakan tangga darurat karena terjadi gempa. Seketika orang-orang berhamburan menuju tangga darurat. Seketaris direksi membimbing direksi untuk menyelamatkan diri. Sementara aku dan Haris langsung bergandengan tangan turut serta menyelamatkan diri.
Kantorku berada di lantai lima belas, maka perlu waktu untuk kami turun sampai lantai dasar. Apalagi tangga darurat sudah penuh sesak oleh orang dari lantai lain yang juga ingin menyelamatkan diri. Beberapa orang ada yang menggunakan lift, sungguh membahayakan diri sendiri. Tapi, Haris juga menarik tanganku untuk melakukan hal yang sama.
“Jika menggunakan lift, kita akan lebih cepat sampai ke lantai dasar.”
“Tidak. Tidak, Haris. Kalau gempa bisa membuat listrik mati dan kalau listrik mati, kita akan terjebak di dalam lift. Kamu mau kita mati konyol di dalam lift?”
“Baru turun dari lantai lima belas ke lantai empat belas saja aku sudah ngos-ngosan. Pengap pula karena berdesak-desakan,” keluh Haris yang menepi di lantai empat belas ketika orang-orang sudah berlari ke lift dan ke tangga darurat.
“Sisa tiga belas lantai lagi,” ucapku sambil menarik tangan Haris karena hanya tersisa kami berdua di lantai empat belas.
Goyangan gempa sudah mulai tak terasa, tapi aku khawatir akan terjadi gempa susulan jika kami hanya berdiam diri. Padahal tujuan kami menyelamatkan diri, bukan untuk menjemput kematian dengan bertahan di dalam gedung. Untunglah Haris mengikutiku untuk turun tangga meski sambil menghela napas sebal.
Sampai di lantai tiga belas, aku merasa memasuki dunia lain. Lorong kosong yang gelap. Tak terlihat ujungnya. Tanpa penerangan apa pun. Setahuku memang lantai tiga belas kosong, tapi aku tak tahu jika segelap ini. Mungkin listriknya mati dan membuat lampunya ikut tak hidup. Lalu, ada suara gemerisik dan langkah kaki yang terseret-seret.
“Kamu dengar ada suara, kan? Bukannya lantai ini kosong?” ujar Haris.
“Lantai ini memang kosong, kok. Sebaiknya kita segera turun!”
“Mungkin ada orang yang tersesat. Aku harus membantunya.”
“Tunggu dulu,” cegahku sambil mencoba menggapai tangan Haris. Tapi tanganku hanya menggapai angin.
Ada suara daun kering terinjak seiring langkah kaki Haris. Lalu disusul keluhan mengaduh dan berubah menjadi pekik tertahan. Aku memicingkan mata mencoba melihat sosok temanku di balik gelap pekatnya lorong.
“Haris?”
Ketika aku memanggil-manggil nama temanku, datang seorang satpam yang sedang patroli. Secara tergesa-gesa aku langsung memintanya untuk mengecek lorong kantor lantai tiga belas. Ia mengeluarkan senter mungil dari kantongnya, tapi tidak bergerak dari tempatnya berpijak.
“Neng, lantai tiga belas ini memang sengaja dikosongkan. Waktu itu ada tragedi seorang suami yang cemburu buta kepada istrinya yang bekerja di lantai tiga belas ini. Ia membunuh orang-orang di lantai ini dengan pistolnya, setelah kejadian itu baru terungkap bahwa suami itu mantan penembak jitu yang ditendang keluar militer karena melanggar aturan. Beberapa orang di kantor ini sengaja meletakkan sesajen agar para arwah tidak menganggu, karena banyak yang mengeluhkan suara langkah kaki di sini. Tapi, kenapa teman Neng malah menghampiri maut? Kalau ia sampai menendang sesajen, nyawanya tak akan selamat.”
Tepat saat Pak Satpam selesai berbicara, Haris muncul. Aku dan Pak Satpam nyaris menjerit karena wajahnya yang seputih kapas kini terpantul cahaya senter. Pak Satpam buru-buru mematikan senternya. Aku langsung menggandeng tangan Haris.
“Kamu baik-baik saja?”
Haris menatapku hampa. Tapi tangannya yang hangat kini terasa sepanas air mendidih di ketel. Aku tetap menggandeng tangannya agar Pak Satpam tidak curiga. Walau tampak Pak Satpam mengernyitkan kening menatap Haris dengan seksama. Syukurlah nyawa Haris selamat.
“Lebih baik kita naik lift saja. Gempa sudah berhenti. Lebih cepat lebih baik dibanding nanti gempa susulan dan kita terjebak di dalam lift,” usul Pak Satpam.
Aku tak menyukai ide Pak Satpam karena naik lift berpotensi lebih berbahaya di situasi gempa seperti ini. Tapi melihat Haris yang sepucat kapas membuat aku merinding jika kami hanya bertiga lama-lama. Akhirnya tak sampai dua menit, aku, Haris, dan Pak Satpam sampai di lantai dasar hingga menunggu berita dari BMKG bahwa kondisi sudah aman.
Sesudah hari itu, Haris lebih banyak diam. Sosoknya yang ceria kini sudah hilang. Awalnya aku selalu mencoba mengajaknya bercanda. Hingga perlahan Haris semakin berbeda. Ia semakin pucat, tubuhnya kurus, dan tak sehat. Beberapa orang merekomendasikannya ke dokter yang selalu dijawab Haris dengan anggukan pelan. Ia seperti mayat hidup. Pada hari ketiga belas, Haris meninggal. Banyak yang menduga temanku meninggal karena sakit. Tapi aku tak percaya, maka aku mencari Pak Satpam yang pernah kutemui. Wajahnya ketakutan ketika melihatku, namun segera aku mencekal lengannya.
“Bapak pasti tahu kalau Haris meninggal. Dia tidak sakit, kan?”
“Kamu juga harusnya tahu kalau Haris menendang sesajen itu. Para arwah murka. Ia sudah ditargetkan. Meski selamat dari gempa, ia tak mungkin selamat dari para arwah yang memburunya.”
#CerpenMisteriRamadan